April 22, 2024

SPENSALING: P5 Tema Gaya Hidup Berkelanjutan

0

Gaya Hidup Berkelanjutan adalah sebuah tantangan global yang mempengaruhi semua orang, dan di seluruh bagian dunia. Dengan mengacu kepada salah satu tujuan dalam rencana aksi global mengenai Gaya Hidup Berkelanjutan, dan kepada dimensi Profil Pelajar Pancasila, projek “SPENSAKER SAYANG LINGKUNGAN” bertujuan untuk membentuk murid memiliki kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari warga dunia (global citizen) yang dapat berkontribusi untuk mengurangi emisi karbon dan melakukan aksi menjalani gaya hidup ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Projek ini dimulai dengan tahap pengenalan, murid mengenali dan memahami konsep dari jejak karbon, sumber emisi dan keadaan dunia saat ini. Setelah tahap pengenalan, murid masuk dalam tahap kontekstualisasi dengan melakukan riset terpadu dan mandiri, serta melihat konteks lingkungan sekitar yang berkaitan dengan potensi sumber emisi di lingkungan sekitar. Selama proses projek ini berjalan, murid tidak hanya membentuk pengetahuan, namun juga membangun kesadaran dan melakukan penyelidikan secara kritis sehingga pada akhirnya dapat merencanakan solusi aksi dari situasi yang telah mereka ketahui dan pahami. Di tahap ini, murid menuangkan aksi nyata mereka dengan melakukan kampanye bagi komunitas sekolah agar terbangun kesadaran yang lebih luas, dan merencanakan beberapa solusi program sekolah agar komunitas sekolah dapat berkontribusi untuk mengurangi jejak emisi karbon.

Melalui projek ini, siswa diharapkan telah mengembangkan secara spesifik tiga dimensi Profil Pelajar Pancasila, yakni Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia dan Bernalar Kritis.

Hasil analisa dari WHO mengenai Gaya Hidup Berkelanjutan dan kesehatan sosial dan lingkungan, yang dituliskan pada tahun 2018 menyatakan bahwa Gaya Hidup Berkelanjutan mempengaruhi faktor penentu kesehatan sosial dan lingkungan – udara bersih, air minum yang aman, makanan yang cukup dan tempat tinggal yang aman. Antara tahun 2030 dan 2050, Gaya Hidup Berkelanjutan diperkirakan akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan per tahun, dari malnutrisi, malaria, diare, dan tekanan panas. Wilayah dengan infrastruktur kesehatan yang lemah – kebanyakan di negara berkembang – akan menjadi orang yang paling tidak mampu mengatasi tanpa bantuan untuk mempersiapkan dan menanggapi. Mengurangi emisi karbon melalui transportasi yang lebih baik, pilihan makanan dan penggunaan energi dapat meningkatkan kesehatan, terutama melalui pengurangan polusi udara. (https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/climate-change-and-health )

Gaya Hidup Berkelanjutan terjadi karena aktivitas manusia dan berpengaruh kepada cara kita hidup dan masa depan bumi. Dengan melihat isu/permasalahan dalam Gaya Hidup Berkelanjutan global, kita bisa mulai mengambil aksi yang membantu keberlanjutan (sustainability) hidup di bumi.  Sekolah sebagai komunitas dapat membangun kesadaran dari seluruh anggota komunitasnya mengenai jejak karbon yang dihasilkan, dan bagaimana peran kita dalam mengurangi emisi karbon/jejak karbon di bumi. Dengan adanya aksi sehari-hari yang dapat dilakukan sebagai komunitas, kita juga berperan dalam keberlanjutan kehidupan di bumi.

M Ali Sofi
Ikuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *